Selasa, 20 Juni 2023

Senang sedih sendiri

 Terima kasih pada ibu karena telah melahirkan aku. Terima kasih telah merawatku. Terima kasih atas segala dedikasi ibu sejauh aku melangkah. Sayangnya, semua itu bahkan tidak mampu mengikat batinku padamu. Tuhan, jangan jadikan ini wujud kedurhakaanku, aku hanya merasa tidak sedekat itu dengan sosok ibu.

Kadang aku iri, pada mereka yang bisa menangis saat dinyanyikan lagu ibu. Aku iri pada mereka yang dengan dalam mengasihi ibunya. Kenapa aku tidak?? Agaknya kekerasan yang aku alami dulu masih membekas jelas di benak. Ibu, sosok yang seharusnya menjadi rumahku berlindung, malah menjadi ruang paling menakutkan untuk aku singgahi. Ibu, tatapan yang semestinya menyejukkan ku, malah menjadi gerbang penyiksaan bagiku. Seberapa salah aku dulu?? Seberapa nakal aku dulu? Pantaskah lebam itu mewarnai paha mungilku? Pantaskah dagingku tergores? Setimpalkah dengan rasa puas luap amarahmu? Entahlah, aku tetap anak kecil yang terluka karna ibuku sendiri. 

Hari berganti....Setelah dewasa aku memahami bahwa ibuku belum siap menjadi ibu. Batin kecilnya juga terluka di masa lalu. Mendorongnya melakukan salinan siksa terdahulu. Haruskah aku jadi korbannya? Dinding kasar itu bisu, takut bersuara. Ia diam, takut tangisku terdengar sampai rumah sebelah. Ia ingin terisak, melihat gadis kecil yang kepalanya dibenturkan dengan keras. Ia ingin membelai rambut ikal gadis kecil itu. Dia yang sedang meratapi dosanya yang dirasa sebesar lautan.

Padamu aku katakan ibu.. diusiaku yg sudah berkepala 2 ini. Aku tidak pantas menerima kekerasan itu. Tubuhku tak cukup tempat untuk warna biru ungu atas hujamanmu. Aku... Tidak pantas di siksa keras..

 Aku rela beli parfum yang sama cuma biar bisa cium wangi kamu lagi. Aku kangen kamu bahkan hawamu saja ada kenangannya:)